20 hours from Jakarta: another world

Labour rights article written on the 26 Jul 2010

English / Bahasa

As I wait to find work again with adidas, whenever I have the chance I return home to my village to visit my parents and relatives in Wonogiri. In mid May I asked for leave from my union activities at GSBI and returned for a fortnight to my parent’s house in a village near the city of Solo, Central Java.

At the village I kept busy helping my parents in the fields. My parents are farmers and do not have any regular income. Their own land doesn’t yield enough to cover every day necessities. So to fulfil their daily needs they work as labourers on other people’s land. With their meagre income, my parents still support two of their children (my older sister and young sister), as well as three grandchildren (from my older sister). As well as my parents and siblings, there are my grandparents, who are also farmers.

The village environment where I was brought up is remote from city cultures, remote to places like Jakarta— the home of Indonesia’s government.

In the village environment everything is limited, places to shop, access to medical treatment and hospitals. In the past, when I was still a student, every day I walked more than 4 kilometres to get to school.

The shoes on my feet would wear out quickly and tear apart.  It never even passed my mind that at some point in the future, after I finished school, I would work in an adidas shoe factory near Jakarta…. Just to travel from Wonogiri to Jakarta is an exhausting journey of more than 20 hours!

As is well known, my birthplace of Wonogiri is very famous for its staple food of nasi tiwul (a meal made from cassava which is dried out and pounded into flour). Wonogiri is named after the two environments that prevail there, wono which means field or forest and giri which means mountain. The area is famous for gaplek or cassava and also known for multiple crop planting usually plant soybeans, peanuts, cassava and rice. However because of the dry conditions we can’t rely on crops like rice which need lots of rainfall. Our land is not very fertile. While I was at home I spent lots of time helping my parents search for grass to feed our one cow.

Actually there are not many young men in the village because there isn’t much work here and the work that exists doesn’t provide enough income to cover our costs. This is why we mostly migrate to the cities to find work in factories. So even though I lost my job for organising at Panarub, I still prefer to get work in a factory in the city because where I come from there are not many alternatives.

Send me a message…

I’d like to know what you think, or if you have any questions about my childhood in Wonogiri or my adult life in Jakarta. Feel free to write a comment!

Related Indonesian – Bahasa Indonesia

20 jam dari Jakarta: dunia lain

Di saat-saat saya menunggu untuk bisa lagi bekerja di adidas, saat ada waktu yang mungkin saya pun ke kampung menengok orang tua dan juga saudara-saudara saya yang ada di kampung Wonogiri Jawa Tengah. Di akhir-akhir bulan Mei 2010, saya meminta untuk ijin cuti dari kegiatan saya di GSBI, dan saya kurang lebih 2 minggu berada di kampung halaman Solo Jawa Tengah.

Di kampung halaman saya sibuk bantu-bantu orang tua ke ladang. Orang tua saya petani yang tidak ada penghasilan tetap. Mereka tidak mempunyai ladang sendiri yang cukup untuk menutupi kebutuhan setiap harinya. Oleh karena itu, untuk mencukupi hidup sehari-hari mereka bekerja sebagai buruh tani ke ladang orang lain. Sampai saat ini pun dengan tanah garapan yang sangat pas-pasan orang tua terus menjalani hidup dengan 2 ( dua ) anak ( kakak dan adik saya ) juga 3 ( tiga ) orang cucu yang tinggal di kampung. Di kampung saya ada nenek dan kakek yang juga seorang petani.

Saya dibesarkan di lingkungan kampung yang jauh dari budaya-budaya kota, seperti Jakarta yang menjadi pusat kekuasaan di Indonesia. Di tengah lingkungan desa segala hal sangat terbatas— baik akses untuk tempat-tempat belanja yang serba ada maupun akses untuk mendapatkan tempat berobat (rumah sakit ). Pada saat dulu, waktu saya masih sekolah, saya harus berjalan kaki lebih dari 4 kilo meter. Sehingga sepatu yang saya kenakan cepat rusak dan bolong-bolong! Tak pernah terlintas dalam pikiran saya bila suatu saat nanti saya, pada saat ketika selesai atau lulus sekolah saya akan bekerja di pabrik sepatu adidas di dekat Jakarta. Untuk pergi dari Wonogiri ke Jakarta / Tangerang saja memakan waktu yang sangat melelahkan dengan 20 jam lebih!

Seperti sudah diketahui, tempat kelahiran saya Wonogiri terkenal dengan makanan pokok nasi tiwul (makanan dari singkong) yang di keringkan dan di tumbuk jadi tepung dan baru di olah jadi makanan nasi tiwul (makanan pokok). Kenapa daerah saya di namakan Wonogiri,di mana keadaan alamnya secara geografis banyak pegunungan dan lahan pertanian. Yang Wonogiri dari 2 (dua) kata, ‘wono’ yang artinya ladang dan ‘giri’ yang artinya gunung. Di daerah wonogiri,yang sangat terkenal dengan hasil pertanian Gaplek (singkong) juga dengan sistim pertanian tumpang sari,yang dalam sebidang tanah bisa di tanam lebih dari satu macam tanaman (singkong, padi, kedelai dan kacang tanah). Namun dengan kondisi alam yang hanya pertanian yang mengandalkan dari curah hujan (musim penghujan) atau lahan pertanian Sawah tadahan Yang artinya hanya dapat irigasi dari air hujan.Ini yang membuat kondisi alam wonogiri kurang subur. Saat saya di kampung, saya dengan semangat bantu-bantu orang tua mencari rumput untuk ternak yang orang tua punya se-ekor sapi yang di kasih makan rumput-rumput dari ladang.

Sedangkan saya atau temen-temen sebaya/seumur saya udah pada pergi ke kota mereka tidak tinggal di desa karena di desa tidak ada pekerjaan kalaupun ada hanya bertani dan itupun tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga mereka pada pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan di pabrik-pabrik. Dan kondisi ini sama dengan apa yang saya alami saat ini meskipun saya akhirnya di PHK karena menjalankan hak berorganisasi di PT. Panarub, Kota Tangerang Indonesia.