Committed to a better life

Labour rights article written on the 22 Jun 2010

Photo: Tim Herbert/OxfamAUS

English / Bahasa
I feel like a victim of my dismissal. From 2006 I was sacked from PT Panarub. To this day I feel my life has lost its routine, after having worked so many years as a producer of adidas. But I still believe I can take action to create a better life for myself and others.

The thought has raced through my mind that I should show the world that I also want to be like those who have a place in life in which they can still have hope, hold life expectations and possess the opportunity to find decent work. Yet I’m aware that my place in life is only feeble and transient, because my rights and freedom to obtain work have been destroyed without a clear basis or reason.

Sometimes my pain is difficult to withstand and I’m uncomfortable about even allowing myself to imagine that my hopes might ever be realised. So I travel through life with uncertainty, without any guarantee from adidas that it would take any responsibility for workers… so it’s difficult for me to obtain work or a regular wage.

Sometimes, to satisfy the basic needs of everyday life like food, paying for electricity, water bills, and phone bills and so on I have to get assistance from charity hand outs or friends who see my situation and take pity on me. But I don’t always rely on these kinds of handouts or the good hearts of friends. Sometimes I just endure the feeling of hunger because I can’t afford to buy food. I certainly don’t have money to buy food of the kind of nutrition that I should have each day.

Suwandi supports GSBI

But even in this situation I always try to be optimistic and do the best that I can, like I always look for information on job opportunities and apply to work in Jakarta, Bogor, and Tangerang—mostly in Banten province. At the same time, sometimes I feel this is all useless because I’m held back by my age. At 32, I’m considered old for new factory positions. I also feel disadvantaged because of the fact that I have only minimum education where as I have to compete with new graduates—some even university graduates. Ironically, whenever I apply to other shoe factories I feel like I’m always rejected because of my sacking from Panarub, yet shoe production is the area in which I have the most experience.

I feel things are especially tough now that when ever I seem to visit a traditional market or grocery store I’m constantly shocked and surprised by the increased price of goods and services. Everywhere I look the price of basic goods has sky rocketed- like the price of rice, cooking oil, sugar, school fees… it especially worries me that health care is so expensive since I’m in such a difficult economic situation right now. As an example, I was hospitalised with Malaria from the 16th to the 19th of April this year. The price of medicine and treatment was totally beyond my means. But in this dark situation, friends provided a ray of light- I was so fortunate that they were able to help out.

Although I’m not working anymore at the moment, I’m still involved with GSBI (Association of Indonesian Unions) activities and I remain committed to developing and promoting GSBI especially in Tangerang district, Banten. I helped form the alliance FPR (People’s Struggle Front) and unite several different unions throughout Tangerang to genuinely advance the social, economic and political rights of workers, standing up for workers in opposing all forms of oppression. GSBI’s imperative is to always struggle for change amidst the chronic and extraordinary suffering of the Indonesian working class. GSBI must work to relive the suffering of the working class, especially those who are oppressed and marginalised.

So while obtaining work and a secure wage is a my personal hope and ambition (so that I can fulfill my own living needs and to help improve economic situation of my parents)- it is also consistent with my commitment to a broader struggle in the interests of social economic and political rights for the working class.

Send a message to Suwandi…

Suwandi is looking forward to hearing what others think about the situation faced by factory workers in Indonesia and elsewhere. He is also happy to answer any of your questions. But please be patient as it may take him a few days to respond.

Related Indonesian Entry – Bahasa Indonesia

Mencari kehidupan yang lebih sejahtera

Saya adalah korban PHK. PT.Panarub Industry memecat saya sejak tanggal 13 Januari 2006. Hingga kini praktis saya kehilangan rutinitas pekerjaan selama 4 tahun sebagai buruh yang memproduksi sepatu bermerek ADIDAS.

Pernah terlintas dalam benakku untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya juga ingin seperti mereka yang punya pijakan hidup layaknya manusia yang punya asa, harapan hidup dan hak mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun saya sadar bahwa pijakan hidupku hanyalah semu dan sementara, karena hak dan kebebasanku untuk mendapatkan pekerjaan telah dirampas tanpa alasan yang jelas dan mendasar.

Kadang perih ini tak tertahankan dan risih ini membayangiku disaat tuntutan harapan untuk hidup terus kujalani diantara ketidakpastian dan ketiadaan jaminan yang pasti dari ADIDAS sebagai bentuk responsibility terhadap buruhnya, sehingga saya sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tetap.

Terkadang, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan,bayar listrik,bayar air (PAM),bayar telephone dan lain sebagainya yang tidak bisa dihindari untuk pemenuhan kebutuhan hidup pokok sehari-hari harus dibayar mahal oleh uluran tangan seseorang dan para dermawan yang melihat kondisi dan prihatin akan kehidupan saya. Walaupun semuanya itu tidak selalu tergantung dengan uluran tangan atau pemberian orang lain secara ikhlas terkadang saya pun harus menahan rasa lapar karena tidak mampu untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak ada uang untuk membeli makanan yang bergizi layaknya empat sehat lima sempurna yang harus dikonsumsi setiap harinya. Akan tetapi dengan kondisi seperti itu saya selalu berusaha dan optimis untuk melakukan sesuatu yang terbaik, salah satunya adalah selalu berusaha untuk mencari informasi lowongan kerja dan melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan di Jakarta,Bogor,Tangerang,khususnya Propinsi Banten. Akan tetapi semuanya itu sia-sia terganjal dengan faktor usia dan minimnya pendidikan sehingga harus bersaing dengan lulusan baru seperti perguruan tinggi (sarjana). Yang lebih ironis lagi adalah ketika saya melamar pekerjaaan di setiap perusahaan yang memproduksi sepatu tidak pernah diterima bekerja karena exs PT.Panarub Industry padahal saya melamar pekerjaaan di perusahaan tersebut sesuai dengan pengalaman saya dipersepatuan.

Belum lagi ketika masuk ke pasar tradisional dan swalayan begitu tercengang dan heran dengan kenaikan harga barang-barang dan jasa yang begitu mahal. Dimana-mana harga barang kebutuhan pokok melonjak tinggi seperti beras, minyak goreng,gula,biaya sekolah semakin tinggi, apalagi kesehatan yang sangat mahal dengan situasi dan kondisi ekonomi yang sangat sulit seperti sekarang ini. Salah satu contoh ketika saya harus dirawat di rumah sakit karena terserang demam berdarah (DBD) dari tanggal 16 s/d 19 April 2010. Biaya pengobatan dan perawatan selama di rumah sakit tersebut saya kesulitan dan tidak mampu untuk membayarnya. Akan tetapi dari proses semua itu ada secercah harapan dan solusi dimana biaya pengobatan dan perawatan dirumah sakit telah dibantu oleh kawan-kawan.

Meskipun saat ini tidak bekerja lagi saya tetap terlibat dalam kegiatan GSBI (Gabungan Serikat Buruh Independen) dan tetap berkomitmen untuk melakukan kerja-kerja pengembangan dan memperbesar GSBI khususnya wilayah Kota dan Kabupaten Tangerang-Banten. Saya membantu membentuk aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR), menyatukan beberapa Serikat Buruh atau Serikat Pekerja lain diwilayah Tangerang-Banten untuk memperjuangkan kepentingan hak-hak sosial ekonomi dan hak politik kaum buruh secara sungguh-sungguh,berpihak pada kaum buruh,melawan segala bentuk penindasan. Sudah merupakan keharusan bagi GSBI di tengah penderitaan kelas buruh indonesia yang sangat kronis dan luar biasa untuk selalu melakukan perjuangan perubahan sebagai upaya untuk meringankan penderitaan kelas buruh dan rakyat pekerja lainya yang selalu ditindas dan dimarjinalkan.

Di sisi lain syarat yang mendasar mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan tetap adalah harapan dan cita-cita saya untuk bisa terus memenuhi kebutuhan hidup dan membantu perekonomian orang tua ke depan yang lebih baik dan tetap konsisten terhadap perjuangan-perjuangan kepentingan hak-hak sosial ekonomi dan hak politik kaum buruh.

Note: The content of this blog is produced by and reflects the personal views of individuals, including workers and union leaders based in Indonesia. The views expressed in this blog are therefore individual views and do not necessarily represent the view or position of and are not endorsed by Oxfam Australia. Further the purpose of this blog is to assist in providing a platform for individuals, including workers and union leaders based in Indonesia to communicate directly with the public and no representation is made as to the accuracy of the information. The information contained in this blog is provided only for educational purposes, and blog topics may or may not be updated subsequent to their initial posting.