The luxury of rice

Labour rights article written on the 12 Oct 2010

English / Bahasa

Since I was small I have never been spoken to harshly by my parents. My mother in particular has never snapped or yelled at me, even though I was very naughty and stubborn as a child. My mother’s principle was to never treat children harshly, never to hit, and so the first thing that comes to my mind when I think of my mother is that she is so patient and caring. This is the secret that my mother passed on to me and my brothers, if we are patient and caring we become calm, we live longer, and stay young!

My parents worked tirelessly in the fields. We would plant cassava twice a year as our food. When I was young I was often given only cassava rice to eat because we couldn’t afford ordinary rice and other condiments. I understood that rice was really expensive, so even if a tiny bit of rice was mixed in with my cassava dish, I was overjoyed!

My family home of Wonogiri is situated between the slopes of Mt. Lawu (1650 meters tall) and the coast. The south coast line is famous for its huge waves and for having lots of fish. Many fishermen also live along the coast. My area is popular with tourists who want to see the beautiful mountains and caves throughout Wonogiri. I feel regret that Wonogiri hasn’t really reached its full potential as a tourist destination because there is so little money for people to start up businesses. Income sources in Wonogiri are very limited as most of us are farmers with very small land holdings across hilly terrain.

This year I am 33 years old. My ambition is to be able to make my parents happy and to make them feel appreciated after they have supported me for all these years. After so many years of struggle, I want to help them have a better life.

Send me a message…

Feel free to write a comment! You can also send me some questions, perhaps about my childhood in Wonogiri or my of experiences making adidas shoes at a factory in Jakarta.

Related Indonesian – Bahasa Indonesia

Nasinya sedikit tetapi tetap senang

Semenjak kecil seingat saya belum pernah di kata kasar dari kedua orang tua saya, terutama dari Ibu saya yang belum pernah sekalipun membentak atau nyupit sekalipun, meskipun saya sangat nakal dan membandel pada saat saya masih kecil. Seperti prinsip Ibu saya memperlakukan anak jangan sampai kasar apalagi memukul, dengan satu alasan dimana masih sangat jelas dalam ingatan saya Ibu saya begitu sangat penyabar dan sayang. Prinsip sabar dan kasih sayan yang selalu di ajarkan pada saya dan juga semua saudara saya yang terus di sampaikan karena jika sabar dan saling sayang maka hidup akan menjadi nyaman dan teutama panjang umur dan juga awet muda.

Orang tua saya selalu bekerja keras di ladang. Kami memanam singkong dua kali setahun buat makan. Semasa kecil saya telah terbiasa dikasih makan dengan nasi tiwul dan sangat jarang sekali makan nasi beras/nasi putih dan dengan lauk pauk seadanya.

Saya dikasihtahu betapa harga beras saat itu sangat mahal dan sangat jarang sekali saya bisa makan nasih putih. Makan nasih tiwul dengan sedikit nasih putih bagi saya sewaktu kecil sangat menyenangkan.

Wonogiri berada di bawah lereng gunung Lawu dengan ketinggian sekitar 1650 meter dari permukaan air laut, tidak jauh dari pantai selatan. Laut selatan sangat terkenal dengan ombak yang sangat besar, dan dengan ikan yang sangat banyak. Nelayan yang tinggal di bagian selatan Wonogiri juga banyak. Kota Wonogiri saat ini sangat popular dengan wisata yang ingin melihat gunung yang indah dan gua-gua yang sangat menarik. Namun saya sangat menyayangkan semua potensi wisata alam di kota Wonogiri belum digarap dengan semaksimal mungkin sebab pembiayaan/ angaran daerah yang tidak mendukung. Sumber pendapatan sangat terbatas di Wonogiri karena mayoritas penduduknya bertani dan buruh tani daerah yang juga merupakan pegunungan yang sangat padat karena terletak pada deretan pegunungan seribu.

Pada 2010 ini saya genap usia yang ke 33 Tahun. Cita-cita saya adalah berusaha untuk membahagiakan kedua orang tua sebagai bentuk pengabdian dan tanda terimakasih pada kedua orang tua yang menyayangi, mengasuh dan menyekolahkan saya. Sudah lama mereka bekerja setiap hari dengan keras dan rajin. Saat ini saya ingin membantu mereka untuk mempunyai kehidupan yang lebih baik.